Nasional

Peristiwa

Politik

Recent Posts

Ibadah Haji: Tanah Haramain Dalam Kendali Pemimpin Dzalim dan Kaki Tangan Zionis

Arab Saudi kaki tangan Zionis

Aljazera-news,com -- Arab Saudi merampas dan menguasai tanah Haramain, Al saud hanya penjajah Zionis yang menguasai tempat Ibadah Ummat Muslim. Berhaji itu kewajiban setiap muslim bagi yang mampu untuk memenuhi panggilan Allaah, melarang ummat muslim menuaikan Ibadah Haji  Arab Saudi telah Kufur dan masuk dalam tahap ke Kafiran..

Kerajaan Arab Saudi kaki tangan Zionis  Israel,  sudah sekian lama merampas tanah Haramain dari kaum Muslimin dan menciptakan perpecahan di antara Madzab islam yang sudah ada sejak ribuan tahun sebelum terbentuknya kerajaan Arab Saudi..

Kekufuran Al Saud Raja Salman terhadap Allaah mulai nyata dengan melarang ummat muslim Suriah, Yamman, dan Iran menunikan Ibadah Haji mereka juga menghacurkan negri yang di berkahi Allaah atas Do,a Rosulullaah Saw.

Di kutip dari Salafynews, Nampak sekali bahwa kerajaan Saudi menyerahkan pengamanan Haramain dan urusan ibadah haji kepada Israel, hal ini menjadi bukti bahwa kasus tragedi Mina dan jatuhnya crane setahun yang lalu menunjukkan Saudi tak becus mengelola urusan ibadah haji, dan hingga saat ini para korban tragedi Mina dan Crane belum mendapatkan kompensasi yang dijanjikan oleh Raja Salman.

Yang terbaru Arab Saudi menggunakan keamanan urusan jemaah haji menyewa Israel dan sudah meneken kontrak dengan perusahaan Israel sebuah gelang GPS untuk melacak para jemaah haji dengan berisi data sesuai paspor dan visa, pada hari sabtu (10/09) pemerintah saudi mulai memberikan gelang elktronik kepada para jemaah haji yang telah memuat data mereka, setelah sebelumnya Saudi membantah kerjasama dengan perusahaan Israel dalam menyediakan gelang elektronik yang didukung GPS.

Saluran berita dunia yang dikutip al-Maloomah menyebutkan bahwa gelang ini terbuat dari kertas yang dilapisi plastik yang berisi kode yang dapat dibaca dari ponsel pintar yang menampilkan identitas jemaah haji, kewarganegaraannya, dan tempat tinggalnya di Mekkah dan semua informasi yang tercatat ketika mengajukan permohonan visa. (Baca: Monarki Saudi Khianati Islam Taati Zionis)

Disebutkan juga bahwa gelang ini untuk jemaah haji dari negara-negara Arab serupa seperti paspor, yang dijual kepada peziarah seharga dua riyal Saudi.

Pihak berwenang Israel telah mengumumkan sebelumnya bahwa Arab Saudi telah menandatangani kontrak dengan perusahaan Israel untuk menyediakan gelang elektronik yang dilengkapi dengan teknologi GPS yang dapat menemukan posisi jemaah haji oleh badan-badan keamanan yang terkait dengan hubungan strategis dengan Arab Saudi. (SFA/AJN)

Ulama Al-Azhar Maulana Ali Jum’ah : Muktamar Chechnya, Siapakah Ahlussunnah Wal Jamā’ah?

Suara Al-Azhar
Sumber Foto : Suara Al-Azhar 
Terjemah Sambutan Maulana Ali Jum’ah Pada Pembukaan Muktamar “Siapakah Ahlussunnah Wal Jamā’ah?”

Chechnya 25 Agustus 2016

Para hadirin sekalian, di hadapan grand syaikh Al-Azhar, imam Ahlussunnah Wal Jamā’ah, saya berkata kepada anda semua:
Assalāmu 'Alaikum Wr. Wb.

Ahlussunnah Wal Jamā’ah (Aswaja) membedakan antara teks wahyu (Al-Qur’an dan Sunnah), penafsiran dan penerapannya, dalam upaya melakukan tahqīq manāth (memastikan kecocokan sebab hukum pada kejadian) dan takhrīj manāth (memahami sebab hukum). Metodologi inilah yang melahirkan Aswaja.

Aswaja adalah mayoritas umat Islam sepanjang masa dan zaman, sehingga golongan lain menyebut mereka dengan sebutan: “Al-‘Āmmah (orang-orang umum) atau Al-Jumhūr”, karena lebih dari 90% umat Islam adalah Aswaja.

Mereka mentransmisikan teks wahyu dengan sangat baik, mereka menafsirkannya, menjabarkan yang mujmal (global), kemudian memanifestasikannya dalam kehidupan dunia ini, sehingga mereka memakmurkan bumi dan semua yang berada di atasnya.

Aswaja adalah golongan yang menjadikan hadis Jibrīl yang diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahīh-nya, sebagai dalil pembagian pilar agama menjadi tiga: Iman, Islam dan Ihsān, untuk kemudian membagikan ilmu kepada tiga ilmu utama, yaitu: akidah, fikih dan suluk. Setiap imam dari para imam Aswaja telah melaksanakan tugas sesuai bakat yang Allah berikan.

Mereka bukan hanya memahami teks wahyu saja, tapi mereka juga menekankan pentingnya memahami realitas kehidupan. Al-Qarāfī dalam kitab Tamyīz Al-Ahkām menjelaskan: Kita harus memahami realitas kehidupan kita. Karena jika kita mengambil hukum yang ada di dalam kitab-kitab dan serta-merta menerapkannya kepada realitas apapun, tanpa kita pastikan kesesuaian antara sebab hukum dan realitas kejadian, maka kita telah menyesatkan manusia.

Disamping memahami teks wahyu dan memahami realitas, Aswaja juga menambahkan unsur penting ketiga, yaitu tata cara memanifestasikan atau menerapkan teks wahyu yang absolut kepada realitas kejadian yang bersifat relatif. Semua ini ditulis dengan jelas oleh mereka, dan ini juga yang dijalankan hingga saat ini. Segala puji hanya bagi Allah yang karena anugerah-Nya semua hal baik menjadi sempurna.

Inilah yang tidak dimiliki oleh kelompok-kelompak radikal. Mereka tidak memahami teks wahyu. Mereka meyakini bahwa semua yang terlintas di benak mereka adalah kebenaran yang wajib mereka ikuti dengan patuh. Mereka tidak memahami realitas kehidupan. Mereka juga tidak memiliki metode dalam menerapkan teks wahyu pada tataran realitas. Karena itu mereka sesat dan menyesatkan, seperti yang imam Al-Qarāfī jelaskan.

Aswaja tidak mengafirkan siapapun, kecuali orang yang mengakui bahwa ia telah keluar dari Islam, juga orang yang keluar dari barisan umat Islam. Aswaja tidak pernah mengafirkan orang yang salat menghadap kiblat. Aswaja tidak pernah menggiring manusia untuk mencari kekuasaan, menumpahkan darah, dan tidak pula mengikuti syahwat birahi (yang haram).
Aswaja menerima perbedaan dan menjelaskan dalil-dalil setiap permasalahan, serta menerima kemajemukan dan keragaman dalam akidah, atau fikih, atau tasawuf:
(mengutip 3 bait dari Al-Burdah):

“Para nabi semua meminta dari dirinya.
Seciduk lautan kemuliaannya dan setitik hujan ilmunya.
Para nabi sama berdiri di puncak mereka.
Mengharap setitik ilmu atau seonggok hikmahnya.
Dialah Rasul yang sempurna batin dan lahirnya.
Terpilih sebagai kekasih Allah Pencipta manusia.”

Aswaja berada di jalan cahaya terang yang malamnya seterang siangnya, orang yang keluar dari jalan itu pasti celaka.
Aswaja menyerukan pada kebajikan, dan melarang kemungkaran. Mereka juga waspada dalam menjalankan agama, mereka tidak pernah menjadikan kekerasan sebagai jalan.

Diriwayatkan dari sahabat Abu Musa Al-Asy’arī, bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “...hingga seseorang membunuh tetangganya, saudaranya, pamannya dan sepupunya.", Para sahabat tercengang: “Subhānallah, apakah saat itu mereka punya akal yang waras?” Rasulullah menjawab: “Tidak. Allah telah mencabut akal orang-orang yang hidup pada masa itu, sehingga mereka merasa benar, padahal mereka tidaklah dalam kebenaran."

Rasulullah juga bersabda: “Barangsiapa yang keluar dari barisan umatku, menikam (membunuh) orang saleh dan orang jahatnya, ia tidak peduli pada orang mukmin juga tidak menghormati orang yang melakukan perjanjian damai (ahlu dzimmah), sungguh dia bukanlah bagian dari saya, dan saya bukanlah bagian dari dia."

Aswaja memahami syariat dari awalnya. Mereka memahami “Bismillāhirrahmānirrahīm” (Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Allah Menyebutkan dua nama-Nya, yaitu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah tidak mengatakan: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Membalas dan Maha Kuat”. Justru Allah menyampaikan pesan keindahan dalam keindahan (melalui Ar-Rahmān dan Ar-Rahīm). Allah tidak mengenalkan diri-Nya dengan keagungan-Nya SWT.

Kami belajar “Bismillāhirrahmānirrahīm” di Al-Azhar. Para ulama Al-Azhar saat menafsirkannya menjelaskan dengan banyak ilmu. Mereka menjelaskan “Bismillāhirrahmānirrahīm” dari banyak perspektif ilmu: fikih, mantiq (logika), akidah, suluk dan balaghah. Mereka sabar duduk menjelaskannya dengan begitu lama dan panjang, hingga kita menyangka bahwa penjelasan mereka tidak ada ujungnya.

Kemudian, setelah musibah (teror golongan radikal) ini menimpa, kita baru memahami bahwa metode mengajar ulama Al-Azhar itu merupakan kebenaran. Mereka membangun piramida (ilmu kita) sesuai cara yang benar: membangun pondasi piramida dari bawah, hingga sampai pada ujung lancipnya yang berada di atas. Sementara kelompok radikal membalik cara membangun piramida (ilmu mereka, ujungnya di bawah, dan pondasinya di atas) hingga piramida itu runtuh mengenai kepala mereka sendiri.

Aswaja tidak memungkiri peran akal, bahkan mereka mampu mensinergikan akal dan teks wahyu, serta mampu hidup damai bersama golongan lain. Aswaja tidak pernah membuat opini umum palsu (memprovokasi). Mereka tidak pernah bertabrakan (melakukan kekerasan) dengan siapapun di jagad raya. Aswaja justru membuka hati dan jiwa mereka untuk semua orang, hingga mereka berbondong-bondong masuk Islam.

Para ulama Aswaja telah melaksanakan apa yang harus mereka lakukan pada zaman mereka. Karena itu kita juga harus melaksanakan kewajiban kita di zaman ini dengan baik. Kita wajib memahami teks wahyu, memahami realitas dan mempelajari metode penerapan teks wahyu pada realitas.

Aswaja memperhatikan dengan cermat 4 faktor perubahan, yaitu: waktu, tempat, individu dan keadaan. Al-Qarāfī menulis kitab luar biasa yang bernama Al-Furūq untuk membangun naluri ilmiah (malakah) hingga kita mampu melihat perbedaan detail. Awal yang benar akan mengantar pada akhir yang benar juga. Karena itu, barangsiapa yang mempelajari alfabet ilmu (pondasi awal ilmu) dengan salah, maka ia akan membaca dengan salah juga, lalu memahami dengan salah, kemudian menerapkan dengan salah, hingga ia menghalangi manusia dari jalan Allah tanpa ia sadari. Inilah yang terjadi (dan yang membedakan) antara orang yang belajar ilmu bermanfaat, terutama Al-Azhar sebagai pemimpin lembaga-lembaga keilmuan, dan antara orang yang mengikuti hawa nafsunya, merusak dunia dan menjelekkan citra Islam serta kaum muslimin.

Pesan saya kepada umat Islam dan dunia luar: Ketahuilah bahwa Al-Azhar adalah pembina Aswaja. Sungguh oknum-oknum (yang membencinya) telah menyebar kabar keji, dusta dan palsu bahwa Al-Azhar telah mengalami penetrasi (dan lumpuh). Mereka ingin membuat umat manusia meragukan Al-Azhar sebagai otoritas yang terpercaya, hingga mereka tidak mau kembali lagi kepada Al-Azhar sebagai tempat rujukan dan perlindungan.

Al-Azhar tetap berdiri dengan pertolongan Allah SWT, dibawah pimpinan grand syaikhnya. Setiap hari Al-Azhar berusaha untuk mencapai tujuan-tujuan mulianya, juga membuka mata seluruh dunia, menyelamatkan mereka dari musibah (radikalisme) yang menimpa. Al-Azhar tidak disusupi dan tak akan lumpuh selamanya hingga hari akhir, karena Allah Yang membangunnya dan melindunginya. Allah juga Yang mentakdirkan orang-orang pilihan-Nya untuk mejalankan manhaj Aswaja di Al-Azhar, meski orang fasik tidak menyukainya.

Doakanlah untuk kami, semoga Allah memberi kami tuntunan taufīq agar kami bisa melakukan hal yang dicintai dan diridhoi-Nya. Doakan agar kami mampu menyebar luaskan agama yang benar ini, dengan pemahaman dan praktek yang benar juga, dan semoga kami mampu menjelaskan jalan yang penuh cahaya ini kepada umat manusia, sesuai ajaran Rasulullah. Doakan kami semoga Allah membimbing kita semua -di muktamar ini, dan pasca muktamar- semoga muktamar ini bisa menjadi awal perbaikan citra Islam di kalangan korban Islamophobia, baik muslim maupun non-muslim.

Sumber : -FP Ahbab Maulana Syekh Ali Jum'ah / Penerjemah -FP Suara Al-Azhar

#Muktamar_Chechnya (Editor: Fauzan Adzlim Purnama/AJN)

Teguran untuk Kelompok Garis Lurus dari Habib Abu Bakar Assegaf Pasuruan

Teguran untuk Kelompok Garis Lurus dari Habib Abu Bakar Assegaf Pasuruan
Sumber Foto: Moch Zain
Untuk ikhwani yang menamakan diri "NU Garis Lurus" hafidzokumullah...

أوصيكم وإيايا بتقوى الله

Sebagai salah seorang nahdhiy, saya sangat yakin antum semua adalah pecinta NU sebagai jam'iyyah mubarakah diinan wajtima'an. Dan karena didorong oleh ghiroh dakwah yang tinggi, antum selama ini gigih mengkritisi pemikiran dan pemahaman yang menurut antum menyimpang dari manhaj assalafusshalih. Terutama akhir-akhir ini pemikiran-pemikiran DR KH Said Aqil Siradj.

Namun demikian, atas dasar kecintaan kita terhadap NU, akan lebih baik jika ketidaksepakatan dengan pemangku jabatan di NU tersebut dituangkan dalam kritik dengan bahasa yang lebih santun dan elegan tanpa membawa-bawa NU secara jam'iyyah atau lembaga.

Menamakan diri sebagai NUGL dan membuat logo NU dengan penambahan NUGL, menambah nama dan logo jam'iyyah yang kita cintai ini dari yang sudah disepakati oleh ulama'ana almutaqoddimin. Padahal, untuk membuat nama dan logo NU itu mereka sepakati dengan hasil istikharah dan isyaroh robbaniyyah. Karena mereka, Syaikhona Kholil, KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah wa man fi thobaqotihim bukan ulama sembarangan. Keilmuan, kewara'an serta keihlasan perjuangan mereka untuk umat sudah teruji. Mereka orang-orang yang tsiqoh, yang tak akan kita jumpai dari generasi saat ini.

رضي الله عنهم وجزاهم عن الأمة خير ماجزى به عباده الصالحين.

Disamping itu, ini bisa menimbulkan faksi dalam tubuh NU serta membuka peluang yang lain akan membuat istilah-istilah baru dengan membawa-bawa nama NU. Tidak tertutup kemungkinan nanti akan ada yang bikin istilah NU Garis Miring, NU Garis Netral sampai NU Tanpa Garis dan seterusnya.

Jika ini terjadi, maka ini sama sekali tidak menguntungkan NU, nahdhiyyin dan kelompok aswaja. Yang diuntungkan justru kelompok-kelompok di luar NU, seperti wahhabiyyah wa khulafaaihim.

Silahkan mengkritik, tapi tetaplah santun. Tanpa menyerang person dengan umpatan dan caci maki. Jangan gunakan cara-cara orang di luar NU dan tanpa membuat istilah NU yang baru (tanpa bikin bid'ah).

Manfaatkan NU semaksimal mungkin utk memberikan manfaat kepada umat dan menjaga aqidah mereka dari ahlul bid'ah waddhalalah. Mari kita teladani cara-cara ulama salaf dalam ber-ikhtilaf. Dan mari kita berusaha menjadi khoiru kholaf likhoiri salaf.

وما توفيقي إلا با الله. عليه توكلت وإليه أنيب

Ttd,

Abu Bakar Hasan Assegaf
Wakil Rais Syuriah PCNU Kab. Pasuruan

(AJN)